Thursday, March 22, 2012

Orang Kaya Memang Lebih Egois

Paman gober
Kalangan “kelas-bawah” -yakni dengan sedikit uang dan pendidikan rendah- menunjukkan kasih sayang dan empati yang lebih banyak daripada mereka dari kalangan-atas, demikian kesimpulan hasil suatu studi psikologi yang diterbitkan di jurnal akademik Current Directions in Psychological Science. Dalam bahasa ilmuwan sosial, “sikap egois” lebih banyak ditemukan pada orang-orang dengan pendidikan yang baik, pekerjaan yang prestisius, pendapatan lebih banyak, dan secara umum status sosial lebih tinggi.
Sang peneliti tuliskan bahwa anggapan sosial seseorang atas kelas sosialnya –yang dibentuk secara utama dari pendapatan dan tingkat pendidikan– memberi pengaruh yang besar pada pemikiran sosial, emosi, dan perilaku. Dengan menggunakan beragam uji yang mengukur empati, mereka yang menganggap dirinya di kelas sosial yang rendah menunjukan “tingkat kewaspadaan tinggi dalam hubungan sosial dan orientasi sosial dalam bentuk-bentuk yang lain.” Dengan kata lain, orang yang lebih miskin dan lebih tidak berpendidikan cenderung untuk bisa merasa, dan peduli pada orang-orang di sekitar mereka. Sementara persepsi kalangan atas, di sisi lain, memicu fokus kepada diri atau memprioritaskan kepentingan diri.
Studi untuk mengetahui tingkat empati ini dilakukan semisal dengan meminta partisipan mengidentifikasi beragam emosi dari foto orang-orang. Mereka yang tamatan SMA mampu menunjukkan akurasi empati lebih tinggi daripada partisipan dari pendidikan perguruan tinggi. “Kemampuan seseorang untuk secara akurat membaca emosi dan perasaan orang lain sangatlah penting karena itu adalah bagian kunci dari empati itu sendiri; bila Anda tak bisa mengenali apa yang sedang dialami orang lain, akan sangat sukar untuk merespon dengan jenis tindakan baik yang mereka butuhkan.”, demikian kata Michael Krauss, salah satu peneliti.
Karya ilmiah ini juga mengklaim bahwa orang-orang dengan tingkat pendidikan dan ekonomi lebih rendah cenderung berperilaku lebih dermawan dengan uang yang mereka punya. Ketika pertanyaan yang diajukan terkait berapakah uang yang sebaiknya diberikan untuk amal, mereka dari ‘kelas bawah’ memberikan prosentase yang lebih tinggi daripada prosentase yang diberikan oleh orang kaya. (Meskipun, prosentase kecil dari miliuner tentu masih jauh lebih besar dari bongkah prosentase harta dari mereka golongan menengah.)
Studi lain yang disitir di makalah berbicara tentang studi di mana partisipan diberi 10 poin untuk ditukarkan dengan uang. Mereka yang mendapat poin itu lalu diminta untuk membagi yang mereka punya dengan orang lain yang tak dikenal. Tebak siapa yang membagi poin lebih banyak?  Kata sang peneliti: ”Kami temukan orang-orang yang secara subyektif merasa dari kalangan bawah memberikan lebih banyak kepada rekan mereka daripada yang dari kalangan atas.”
Salah satu peneliti dari studi yang serupa, Michael Kraus, dari Univesity of California, mengatakan bahwa “Mereka dari kalangan bawah harus merespon pada beragam kondisi ancaman sosial. Anda harus bisa bergantung dan mengandalkan satu sama lain sehingga Anda bisa tahu akan datangnya baik ancaman atau peluang dan ini membuat Anda menjadi lebih peka terhadap emosi orang lain.”
Studi serupa oleh Kraus menyebutkan bahwa orang dari kalangan bawah berada dalam kondisi di mana kekompakan itu dibutuhkan. Hal ini lah yang meningkatkan empati dan menguatkan ikatan sosial.
Apakah lantas kekayaan menyebabkan orang jadi egois? Atau mungkin justru sikap egois lah yang mengantarkan seseorang jadi kaya? Bisa kah kita menjadi kaya tanpa menjadi egois?

No comments:

Post a Comment