Thursday, March 22, 2012

Jangan Bicara Gaji di Acara Reuni!

Mama minta gajian ke papa
Tulisan kemarin tentang betapa gaji yang terpublikasikan membawa pada ketidakpuasan mengarahkan kita pada implikasi lebih luas: ini bukan hanya terkait berapa besar income kita relatif dibanding teman sepekerjaan atau di kantor, namun pada siapapun yang kita kenal baik dalam keseharian. Apa maksudnya?
H. L. Mencken, seorang pemikir, kritikus sosial, dan jurnalis mengatakan seperti ini:“Kepuasan seseorang (a man) terhadap gajinya bergantung pada (are you ready for this?) apakah dia bisa bergaji lebih tinggi daripada suaminya saudara perempuan sang istri.”
Mengapa kok suaminya saudara perempuan sang istri? Entah, mungkin karena istrinya si Mencken selalu mendapatkan update informasi tentang berapa gaji suami saudara perempuannya :mrgreen: . Namun intinya adalah: dari manapun Anda dapatkan informasi yang dengannya gaji Anda bisa diperbandingkan, maka mau tak mau, Anda seolah terpaksa membandingkan diri Anda dengannya. Dan itu juga lah yang lantas menentukan tingkat kebahagiaan diri Anda.
Nah sekarang berita baiknya adalah kita sebetulnya bisa mengendalikan “lingkaran” di sekitar kita. Anda mustinya sudah kenal dengan perkataan “Untuk urusan dunia, lihatlah ke bawah. Untuk urusan akhirat, lihatlah ke atas.” Nah, sekarang kita akan lebih serius dengan sampaian itu, terkhusus untuk yang urusan dunia.
Untuk urusan dunia, tidak cukup sekedar melihat ke bawah; Anda juga harus punya lingkar pertemanan, relasi, dan pergaulan dari kalangan orang-orang di bawah Anda. Itu akan membuat Anda jadi lebih mudah mensyukuri apa-apa yang sudah Anda punya (belum lagi Anda jadi punya orang-orang yang jadi ladang Anda berkebaikan).
Dan yang penting: jangan jadi orang brengsek yang membangga-banggakan gaji (atau kepemilikan mahal) ketika berkumpul dengan orang-orang di bawah Anda. Bahwa Anda kemudian merasa lebih jago dan superior ketimbang mereka, simpan saja perasaan itu untuk Anda sendiri.
Termasuk juga ketika ada acara reunian; entah reuni SMA, kuliahan atau yang lain. Saran saya: jangan pernah bicarakan nominal gaji dan listing kepemilikan. Bicara bisnis tak mengapa (dan malah ketika -terutama- cowok berkumpul tanpa bicara bisnis, jadinya akan hambar), hanya saja tak perlu kita berkoar, “Alhamdulillah, kemarin habis deal proyek ama pemda kaltim; langsung deh beli rumah lagi.” atau malah “Eh, kalian sudah pada tau belum aku sudah punya iPhone 4S yang keren abis itu”. Dan itu adalah cara manjur untuk membuat teman-teman Anda memaki dalam hatinya, “Go to hell, jerkface!” Dan jika Anda di kerumunan komunitas yang orang-orangnya mulai memamerkan gaji besar dan kepemilikannya? Menjauh saja dari sana sebelum itu merusak kesenangan Anda :-)
Fenomena yg penting kita cermati adalah bahwa apa yang penting di sini bukan hanya ketika Anda merasa gaji teman/orang lain lebih tinggi, melainkan ketika orang-orang lain turut mengetahui tentang hal itu. Artinya, mungkin agak menjadi masalah ketika Anda mengetahui bahwa gaji Anda kalah jauh dibanding teman satu kost, satu jurusan, satu angkatan, dst, yang mana Anda mungkin merasa lebih pintar/jagoan/berpengalaman ketimbang dia. Tapi jauh menjadi masalah ketika khalayak ramai (silahkan artikan sendiri) juga turut mengetahui itu. Lebih terasa ketika ada yang menyeletuk, “Lho, ta’kirain kamu lebih pinter daripada dia. Lha kok gajimu kalah jauh gitu.” Alamat sakit hati rawan menyerang :mrgreen:
Perhatian buat istri dan suami…
Pengetahuan tentang betapa otomatisnya sikap membanding-bandingkan ini juga bisa kita gunakan dalam menyikapi kondisi di mana istri miliki pendapatan lebih tinggi daripada suami. Ketika motif istri bekerja sudah tidak (lagi) karena untuk cukupi kebutuhan finansial dasar (melainkan kejar karir, misal), ada (banyak) kasus di mana suami merasa terancam, tak nyaman, dan secara umum tak berkenan dalam kondisi tersebut. Jika yang tahu tentang selisih gaji itu hanya pasangan bersangkutan, tak begitu masalah. Namun akan jadi masalah besar ketika itu terpublikasikan, apalagi ketika di sana ada nada yg meremehkan atau menganggap kecil -dalam hal ini- sang suami.
Ada studi yang menunjukan bahwa suami akan jadi cenderung berselingkuh manakala dia begitu bergantung pada penghasilan sang istri yang mana nilainya jauh lebih besar daripada dirinya (angka yang muncul di riset adalah 75% lebih besar). Meskipun faktor kepuasan pernikahan, agama, dan tingkat pendidikan penting untuk dijadikan pertimbangan, tapi ini perlu dijadikan perhatian. Perihal gaji adalah urusan yang peka bagi seorang suami; maka tidak sebaiknya mengumbar kepada khalayak tentang rupiah gaji, khususnya dalam kondisi di mana penghasilan sang suami lebih rendah daripada sang istri.
Urusan gaji dan pendapatan memang perkara sensitif. Harusnya ini adalah perihal yg membuat kita jadi pandai mensyukuri, bukannya jadi bahan yang menyakitkan hati.

No comments:

Post a Comment