Thursday, March 22, 2012

Berpenghasilan Lebih Tinggi Tidak Lantas Lebih Bahagia

Uang kebahagiaan
Kebanyakan orang terlalu berlebihan dalam memandang betapa pendapatan yang begitu tinggi bisa meningkatkan tingkat kebahagiaan seseorang.
Tentang betapa pendapatan yang besar tidak lantas membawa kebahagiaan, adalah para peneliti dari Princeton University sebagai beberapa yang mengkonfirmasi hal tersebut. Dua profesor, ekonom Alan B. Krueger dan psikolog serta peraih hadiah nobel Daniel Kahneman, berkolaborasi dengan rekanan dari tiga universitas lain untuk studi ini. Mereka mengembangkan instrumen untuk mengukur kualitas kehidupan keseharian seseorang yang bernama Day Reconstruction Method (DRM). DRM ini menghasilkan “skala kenikmatan” yang mana partisipan diminta merekam aktivitas hari yang telah berlalu di suatu diary singkat dan mendeskripsikan bagaimana perasaan mereka atas pengalaman tersebut. Pada 2004, studi dilakukan pada 909 perempuan yang bekerja di Texas dan dilanjutkan pada 2006. Tahun 2005, riset serupa dilakukan di Ohio terhadap 810 perempuan.
Temuannya semacam ini:
Orang-orang dengan pendapatan di atas rata-rata secara relatif lebih puas dengan kehidupan mereka namun tidak lantas mereka lebih bahagia terkait menikmati pengalaman dari waktu ke waktu, mereka cenderung lebih tegang dalam menjalani hidup, dan menghabiskan waktu yang kurang untuk bersantai.
Mereka yang berpenghasilan rendah meyakini bahwa berpenghasilan lebih tinggi akan membuat ‘tingkat kenikmatan’ mereka bertambah, dengan hari-hari yang dijalani dengan bad mood berkurang hingga 32%. Dalam kenyataan, mereka yang berpenghasilan lebih tinggi hanya 12% lebih bahagia. Artinya, efek pendapatan terhadap mood terlalu dilebih-lebihkan.
Orang dengan pendapatan lebih tinggi mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk bekerja, berbelanja, perawatan anak dan aktivitas-aktivitas “wajib” lainnya. Mereka kurang menghabiskan waktu untuk aktivitas “passive leasure” atau kesenangan pasif semacam bersosialisasi atau melihat televisi, yang dipandang oleh responden sebagai aktivitas menyenangkan.
Hasil serupa juga ditemukan pada laki-laki yang bekerja: semakin mereka kaya, justru semakin sedikit waktu untuk bersantai.
Pengejaran kekayaan membuat seseorang bisa melakukan miskalkulasi atas pemanfaatan waktunya, mulai dari melakukan perjalanan bisnis secara berlebihan (yang menjadi momen paling tidak mengenakkan dalam suatu hari, di mana hasil riset lain menunjukkan betapa banyaknya dan lamanya perjalanan mengkontribusikan tingkat ketidakbahagiaan seseorang) hingga mengorbankan waktu untuk bersosialisasi (yang merupakan momen terbaik dalam suatu hari)
Untuk lebih memahami kasus ini, perkenankan saya menyampaikan chart yang menunjukkan empat ukuran kebahagiaan disandingkan dengan tingkat pendapatan per tahun.
Empat ukuran kebahagiannya antara lain sebagai berikut: 1) ‘Positive Affect’ (rerata respon ya/tidak akan kebahagiaan, kenikmatan, dan frekuensi senyum atau tertawa), 2) ‘Blue Affect’ (rerata kekhawatiran dan kesedihan), stress yang terjadi, dan kepuasan hidup.
Penghasilan tahunan dan bahagia
Ada dua poin penting di sini. Pertama, tinggi/banyaknya pendapatan menjadi penting untuk seluruh ukuran kebahagiaan/kesejahteraan. Kedua, sementara kepuasan hidup terus meningkat seiring pertambahan pendapatan, namun kesejahtereaan emosional mendatar saja, bahkan ada kecenderungan menurun.
Simpulan dari peneliti adalah seperti ini: kekurangan uang mengakibatkan penderitaan emosional dan sikap evaluasi yang rendah terhadap hidup. Namun di atas titik tertentu ($75.000 untuk di Amerika Serikat), pendapatan besar tidak lantas menjadi jalan untuk mengalami kebahagiaan ataupun untuk merasakan kebebasan dari perasaan stres dan tidak bahagia. Meskipun memang pendapatan lebih besar akan membuat sikap evaluasi terhadap hidup jadi semakin meningkat.
Tapi $ 75 ribu per tahun itu besar sekali, bukan :mrgreen: Itu adalah titik di mana seseorang sudah membeli rumah, mobil, dan perlengkapan elektronik yang berkualitas, saya kira.
Riset ini mengimplikasikan bahwa hingga titik tertentu, kekayaan tidak lantas membawa bahagia lebih besar mengingat tingkat stres bertambah sehingga terlepas kemampuan yang semakin besar untuk berekreasi, membeli beragam fasilitasi atau lainnya, kadar stres yang dihadapi juga semakin besar.
Take away:
Kebahagiaan bukan di tingkat penghasilan, tapi di bagaimana sikap kita dalam menjalani hari per hari, seberapa kita bisa berikan apresiasi atas pengalaman yang telah terjadi, mensyukuri dan bersikap ikhlas apa-apa yang telah berlalu. Kepuasan hidup kita pada akhirnya didapat dari bagaimana kita memaknai segala yang telah berlalu.

No comments:

Post a Comment