Monday, February 20, 2012

MENGAPA MEMBELI PENGALAMAN LEBIH MEMBAHAGIAKAN

Piknik pengalaman bukan harta
Kemarin, saya telah tuliskan tentang betapa membeli pengalaman lebih penting daripada membeli obyek. Yang berikut sama, hanya saja yang berbicara berbeda; ini adalah hasil penelitian dari profesor psikologi dari Universitas Colorado-Bolder, Leaf Van Boven
Secara singkat, temuan risetnya seperti ini: Seiring waktu berlalu, ingatan tentang pengalaman jadi semakin ranum. Sementara rasa atas TV Plasma atau obyek lainnya, akan terdepresiasi.
Punya mobil untuk membentuk pengalaman menyenangkan bersama keluarga? Tetap saja, yang lebih diingat adalah pengalaman bersama orang-orangnya, yang diingat adalah beragam aktivitas bersama keluarga, bukan mobilnya itu sendiri. Van Boven mengatakan bahwa ingatan tentang pengalaman itu akan tetap melekat dan bahkan menguat.
Betul bahwa mobil itu penting untuk membangun pengalaman yang baik (jika AC mobil rusak dan panas, pengalaman jadi kurang menyenangkan). Tapi ide dasarnya lantas: berarti untuk kendaraan, cukup miliki sampai batas wajar untuk menyamankan, bukan untuk memperturutkan pamer atau terlihat keren di pandangan orang-orang yang mungkin Anda tidak begitu kenal.
Setiap kita cenderung membandingkan diri dengan orang lain, terutama di urusan harta. Di satu RW, tidak semua orang bisa punya mobil mewah atau rumah yang megah dan indah. Tapi jika melancong ke taman safari atau gunung bromo, perbedaan rumah siapa yang lebih besar atau mobil siapa yang lebih mahal jadi tidak relevan. Aspek pengalaman lebih tidak rawan terjangkiti penyakit membanding-bandingkan diri dengan (kepemilikan) orang lain.
Membandingkan diri dengan standar masyarakat memang bisa merusak. Sekarang ini, AC seolah sudah jadi kebutuhan wajib di setiap rumah. Anggapannya demikian, maksud saya. Padahal 10 tahun yang lalu, berapa banyak sih yang berani bilang bahwa memiliki AC di rumah itu wajib hukumnya.
Mereka yang termiskin dari kalangan miskin memang lebih terbahagiakan dengan material daripada pengalaman. Tapi bagi kalangan menengah, membeli pengalaman lebih bisa datangkan kebahagiaan yang awet.
Maka ketika rekreasi dengan mobil yang apa adanya, kamera digital yang ala kadarnya, tak mengapa. Van Hoven lebih jauh lagi mengatakan kita secara otomatis cenderung lebih mengingat bagian indah dari pengalaman alih-alih bagian buruknya.
Lantas apakah kebendaan tidak efektif untuk datangkan kebahagiaan yang awet? Untuk itu, coba tanyakan: “Sampai seberapa jauh pembelian bisa memungkinkan Anda untuk mengalami?” Kata Van Boven,”Bila Anda sudah punya mobil yang bisa jalan dengan baik, memiliki mobil yang lebih baru dan lebih baik mungkin tidak cukup mengembangkan profil pengalaman Anda.” Intinya adalah belilah obyek sebagai sebuah sarana untuk mengalami sesuatu, bukannya sebagai tujuan.

No comments:

Post a Comment